Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 Maret 2014

Bu, aku pengen kayak cewek ini, tiap minggu wajahnya selalu ada di majalah.”Ujar Calista sambil menujuk gambar cewek berpose seksi di salah satu majalah, “Calista, kamu jangan macam- macam ya, Ibu gak mau kalau anak ibu berpakaian yang aneh- aneh seperti di majalah itu.”Ujar Ibu. “Aneh gimana?ini kan model baju zaman sekarang, Ibu lihat dong penampilan aku nich, kayak anak kampungan.”Ujar Calista.”Kamu malu?Ibu saja tidak malu.”ujar Ibu, “Tapi Calista kan lain.”ujar Calista, “Lain gimana?”Tanya Ibu, Calista tidak menjawab pertanyaan ibunya, dia ngeloyor pergi.
“Bu, aku minta uang dong.”Ujar Calista, “Buat apa?”Tanya Ibu, “Ya buat Shopping lah..please…”Ujar Calista sambil memohon- mohon pada ibunya, “Minggu semalam kamu udah shopping, hari ini mau shopping lagi?”Tanya Ibu, “Ibu, pelit nich, anak gadisnya mau shopping aja dilarang.” Calista ngambek, “Ya sudah, “Ujar Ibu.

Calista adalah anak tunggal, mereka termasuk keluarga sederhana, ayah Calista adalah seorang polisi, tapi kecelakaan lalu lintas telah merenggut nyawa ayahnya, gara- gara ingin menolong seseorang yang hendak menyebrang, Ayah Calista di tabrak sebuah mobil yang sedang menyalip  kendaraan lain, sejak saat itu hidup mereka berubah, memang mereka masih tinggal di rumah dinas, tapi untuk kebutuhan hidup yang lain ibu Calista harus menjadi penjahit.
Calista sedang sibuk memilih- milih baju yang ingin dibelinya, tiba- tiba, “Sorry, bisa saya tahu nama kamu siapa?”Tanya seseorang yang ada disebelahnya, “Nama saya, untuk apa?” Tanya Calista, “Ehmm.. begini saya salah seorang agen foto model di majalah fashion, saya lihat kamu punya tubuh yang proporsional uantuk jadi seorang model,gimana kamu berminat jadi model gak?”Tanya orang tersebut, “Ehmmm…”Calista tampak sedikit kebingungan, “Oh ya, saya lupa memperkenalkan diri saya, nama saya Danar, nama kamu siapa?”Tanya Danar, “Nama saya Calista.”ujar Calista, “Ini kartu nama saya, kalo kamu berminat jadi model majalah, kamu bisa datang ke kantor saya. “Ujar Danar, “Baik Pak, saya akan datang.”ujar Calista, Danar tersenyum.
Calista sampai di rumahnya, sambil bersenandung Calista langsung ke kamarnya, “Calista, kamu sudah pulang?”Tanya Ibu, Calista tidak menjawab, dia langsung ke depan cermin, dan langsung berlenggak lenggok  di depan cermin.”Aneh…”batin ibu.
Sejak saat itu tanpa sepengetahuan ibunya, Calista pun menjadi seorang foto model. Wajah  yang cantik, ditambah sedikit polesan make-up membuat Calista semakin cantik. Selama ini Calista berbohong sama ibunya, setiap ibu bertanya , Calista selalu bilang ada urusan penting, seperti hari ini “Belakangan ini ibu lihat kamu sering keluar, pakaian kamu pun bagus- bagus, kamu gak shopping lagi kan?”Tanya Ibu, “Ibu tenang aja, aku kerja koq bu, nanti kalau gaji ku udah keluar aku bagi dech ke ibu. “Ujar Calista, “Kerja apa?koq ibu lihat kerja kamu gak pakai jam, sebentar kamu pergi siang, besoknya sore, bahkan kadang malam, dan jam 1 pagi kamu baru sampe di rumah, kamu kerja apa sich?”Tanya Ibu, “Ibu tenang aja aku gak kerja yang aneh- aneh koq, Ibu percaya sama aku kan?”Tanya Calista, Ibu mengangguk, “Nah, gitu dong…”Ujar Calista sambil mencium pipi ibunya.
Tiga bulan sudah Calista menjadi seorang model di majalah remaja itu, hari ini Calista di panggil oleh pak Danar, “Ada apa ya pak?”Tanya Calista, “Calista tidak terasa 3 bulan sudah kamu bekerja di sini, dan selama kamu jadi model majalah saya, omset penjualan majalah saya naik 70 %, dan itu semua berkat kamu, perusahaan akan mengadakan pesta besar- besaran di sebuah hotel, kamu datang ya?”ujar Pak Danar, “Hotel? maksud bapak?”Tanya Calista, “Kamu jangan berpikir negative dulu, bukan kamu saja, tapi semua model, sekalian kita akan adakan fashion show, dan model utamanya kamu, gimana?”Tanya Pak Danar.”Terimakasih pak, saya akan datang.”ujar Calista.
Acara yang dinanti- nanti pun tiba, dan seperti yang sudah di duga, Calista adalah model yang paling di tunggu- tunggu sama semua pengunjung, banyak agen- agen model yang datang, tidak itu saja beberapa pejabat penting pun tampak hadir di acara itu.Dewi keberuntungan memang sedang berpihak sama Calista, salah seorang tamu mengajak Calista bekerja sama, tentu saja Calista tidak menolak, apalagi harga yang di tawarkan kepadanya cukup tinggi untuk ukuran model pendatang baru seperti dirinya.
Sejak saat itu, Calista menjadi Super model yang sangat terkenal, banyak perusahaan – perusahaan besar ingin mengontraknya menjadi seorang model sabun mandi, produk minyak wangi, dan sebagainya, dan tanpa disadari Calista semakin tekenal, rumah mewah dengan semua kemewahan- kemewahan yang di dapat Calista tanpa disadarinya semakin membuatnya menjauh dari ibunya, Memang Ibu Calista tinggal di rumah Calista yang baru , tapi Ibu merasa sangat kesepian, apa lagi kalau Calista pulang, dia langsung tidur tanpa sempat ngobrol dengan ibunya.
Sejak saat itu, hubungan ibu dan anak itu pun semakin renggang, Calista terlalu  sibuk dengan segala kegiatannya,sedangkan ibu lebih sering di urus  sama salah satu pembantu rumah tangga, “Bu, kapan ibu mau ke dokter?Bi tarsih temenin ya buk.”ujar Bi Tarsih pembantu yang sudah 3 bulan lebih menjadi pembantu di rumah mewah Calista. “Gak, saya mau diantar anak saya saja, bi.”ujar Ibu, “Tapi kan Non Calista sedang sibuk.”ujar Bi Tarsih, “Sesibuk- sibuknya dia, dia pasti ada waktu untuk saya ibu kandungnya, bibi tenang aja ya.”ujar Ibu, Bi tarsih hanya bisa diam mendengar kata majikannya itu.
Rumah besar itu benar- benar sepi, hanya Ibu dan Bi tarsih yang ada di rumah itu, sementara Calista tinggal di sebuah apartemen mewah yang sudah di siapkan perusahaan untuk model- model besar seperti dirinya.Ibu pun menelepon Calista, “Halo, nak, apa kabar?”Tanya Ibu di ujung telepon.”Baik bu, ibu apa kabar?”Tanya Calista, “Ibu sakit nak, kapan kamu pulang?”ujar ibu, “Aduhh bu, aku gak bisa pulang untuk beberapa bulan ini, apartement ini nyaman lo buk, kapan- kapan ibu aku ajak kesini ya.”Ujar Calista, “Gak usah, Ibu gak mau kesana, ibu hanya mau kamu pulang nak.”ujar Ibu, “Ibu, tapi aku gak bisa pulang, masih banyak kerjaan lagi pula aku betah di sini, dekat dengan mall bu.”Ujar Calista, “Calista… kamu masih hobi shopping ya?baju dan tas serta pernak- pernik kamu sebagai model udah kebanyakan, mending uangnya kamu tabung, jangan lupa sedekah untuk orang- orang yang gak mampu ya nak,” ujar Ibu. “Ibu….uang ini kan punya Calista, terserah Calista dong mau diapakan uangnya.”Ujar Calista, “Ibu hanya menasehati kamu saja. Kamu harus ingat….”ujar Ibu, tiba- tiba,Tut..Tut.. telepon terputus, “Calista… halo, halo nak…”ujar ibu.
Penyakit Ibu semakin parah, Ibu pun dirawat di rumah sakit dokter memvonis Ibu terkena hipertensi (darah tinggi), Bi tarsih yang selalu setia menjaga ibu, menelepon Calista, “Halo non …”ujar Bibi, “Ada apa sich bi?sebentar lagi aku mau fashion show nich..”ujar Calista, “Ibu… ibu non di rumah sakit. “Ujar Bibi.”Ya udah, tolong bibi jagain ya, aku masih sibuk nich.udah dulu ya bik.”Ujar Calista sambil menutup handphone nya
Kondisi Ibu semakin parah, dokter sudah “angkat tangan” melihat kondisi Ibu, “Maaf bu, apa ibu ini punya keluarga?”Tanya dokter pada bi Tarsih, “Saya pembantunya dokter,”Ujar Bi Tarsih, “Maksud saya suami atau anaknya.”ujar dokter, “Suami ibu sudah meninggal karena kecelakaan dokter, kalau anaknya lagi sibuk jadi gak bisa kesini.memangnya ada apa dengan majikan saya dokter? “tanyaBi Tarsih.”Ibu ini terkena hipertensi, tensi darahnya 200, dan ibu ini terkena stroke, makanya saya perlu bicara sama anak atau pun keluarga yang lain.”ujar Dokter, “Apa dokter, stroke?ya Allah….”Bi Tarsih histeris.
Ibu sudah di rawat di rumah sekarang, Bi Tarsih sudah sangat kewalahan mengurus semuanya, dia harus mengurus urusan rumah tangga, juga harus menjaga majikan kesayangannya itu, apa lagi Ibu semakin manja, Ibu sebenarnya butuh perhatian, tapi anak tunggal kesayangannya lebih memilih tinggal di apartement dari pada mengurus ibu kandungnya sendiri, telepon pun Calista sudah sangat jarang.”Calista sibuk bu, jadi belom sempat kesana.”Selalu itu alasan Calista saat ibu nya ingin bertemu dengannya.
Hari ini jadwal Calista bersama agency nya berkunjung ke panti jompo dalam acara bakti sosial, Calista melihat orang- orang tua yang “Di buang” oleh anak- anaknya, dengan alasan sudah tua, pikun, penyakitan, dan lain- lain, Calista pun melihat seorang ibu setengah baya sedang menyulam,Calista pun menghampiri Ibu itu, “Ibu sedang apa?”Tanya Calista, “Ibu sedang menyulam, Ibu mau buat syal untuk anak ibu, anak ibu jarang ke sini, jarang menjenguk ibu di sini, Ibu rindu nak, tapi anak Ibu gak perduli dia terlalu sibuk dengan kegiatannya, “ujar Ibu itu. Deg….jantung Calista berdegup kencang, “Ada apa ini?kenapa perasaan ku gak enak ya?”batin Calista, “Calista, ayo kita ke panggung, kita bakal bagi- bagi souvenir, ayo…”Ujar Dini teman Calista sambil menarik tangan Calista,Acara berlangsung sangat meriah, sampai- sampai Calista tidak menyadari HP nya berbunyi.
Setelah acara selesai,Calista pun pulang ,mobil Calista melaju kencang, entah kenapa malam ini dia ingin cepat- cepat sampai di rumah, setibanya di rumah, Calista melihat rumah kosong, “Ibu……Bibik…..”panggil Calista, saat Calista ingin menelepon ke rumah, dia melihat ada 5 miscall dari hp ibunya, Calista pun mencoba menelepon ibunya, “Halo, bu…..Bi tarsih mana?aku udah di depan pintu nich, aku gak bawa kunci buka pintunya ya bu…”ujar Calista, “Non, ini bibik,”Ujar Bibik, “Loh, koq hp ibu sama bibik sich?”Tanya Calista, “Ibu lagi rumah sakit non, Ibu lagi di ruang ICU, darah tinggi ibu kumat lagi, dan sekarang koma, non ke sini ya.”Ujar Bibik, “Apa???”Teriak Calista.
Calista pun sampai di rumah sakit, Calista melihat dokter sedang bicara sama bibi, “Dokter, ada apa dengan ibu saya?”Tanya Calista. “Tensi Ibu anda sangat tinggi, dan Ibu anda sudah kena stroke yang kedua, kalau sebelumnya hanya tubuh sebelah kiri yang tidak berfungsi, kali ini seluruh tubuh ibu anda tidak dapat berfungsi.”Ujar dokter.Calista berlari ke ruangan tempat ibunya di rawat, “Ibu….maafin Calista….”Calista menangis, Ibu hanya dapat menatap anak semata wayangnya itu, Ibu mencoba untuk tersenyum, tapi tidak bisa, ibu ingin bicara tapi tidak bisa, hanya air mata yang ibu punya untuk anak kesayangannya itu, tiba- tiba nafas ibu sesak, Calista pun lari memanggil dokter, hanya bi Tarsih yang ada di samping ibu, tiba- tiba, “Tiiiiiiiiit….mesin pacu jantung ibu berhenti, Saat Calista dan dokter sampai ke ruangan ibu di rawat, Ibu sudah meninggal, “Dokter, tolong ibu saya, berapa pun biayanya akan saya tanggung.”Ujar Calista, “Maaf, tapi saya tidak dapat mengembalikan nyawa ibu anda dengan uang.”Ujar dokter, “Maksud dokter?”Tanya Calista, “Saya turut berduka cita.”Ujar dokter, Calista terdiam, air mata terus menetes dari pipinya.

Di gundukan tanah merah itu, calista masih menangis, “Maafin Calista bu…Maaf karena Calista terlalu sibuk dengan urusan Calista sampai- sampai Calista  jarang menemani ibu.”Ujar Calista sambil terisak di tanah yang masih merah itu, tiba- tiba HP Calista berbunyi, “Halo Calista, kontrak yang kamu tanda tangani seminggu yang lalu sudah selesai, paspor sudah saya urus, kamu bisa ke Singapura Besok, selamat ya, ini adalah awal karir kamu untuk go internasional seperti impian kamu, selamat ya…”Ujar Pak Danar, Calista hanya dapat menangis di gundukan tanah merah itu.
Di pagi buta, ketika matahari belum terbit, seorang nelayan menuju ke tepi sungai. Di pantai berpasir kakinya menyenggol sesuatu, rupanya adalah sekarung batu.

Dia mengangkat karung ini, meletakkan jaringnya disebelahnya, duduk di pantai menunggu matahari terbit.
Dia sedang menunggu matahari terbit, setelah itu dia akan mulai melakukan pekerjaan sehari-harinya.

Dengan malas dia duduk disana menunggu sambil merogoh sebutir batu dari dalam karung lalu dilemparkan dengan iseng ke dalam sungai, sebelum matahari terbit tidak bisa melakukan apa-apa lagi, lalu dia melanjutkan melempar sebutir demi sebutir batu ke dalam sungai.


Perlahan-lahan, matahari mulai terbit, langit mulai terang, pada saat ini hanya tinggal sebutir batu yang ada ditangannya yang lain sudah dilempar semua kedalam sungai.

Hanya tinggal batu terakhir ditangannya, ketika dia melihat sinar matahari yang menyinari batu yang berada ditangannya ini, hatinya berdenyut dengan kencang seperti akan berhenti. Itu adalah sebutir batu permata! Didalam kegelapan, dia melempar habis satu karung permata ke sungai!

Tanpa sengaja kerugian yang dideritanya ini tak terhitung! Dia mulai memaki diri sendiri yang bodoh, dia sangat menyesal dan mulai meratap sampai hampir kehilangan kesadaran.

Tanpa sengaja dia menemukan harta yang dapat membuat dia hidup senang seumur hidupnya, tetapi tanpa sengaja, didalam kegelapan malam, dia melemparkan semuanya ke dalam sungai.

Walau begitu dia cukup beruntung karena masih ada sebutir permata yang tersisa, sebelum dia kehilangan sebutir permata yang terakhir ini, hari sudah terang. Dapat dikatakan dia masih cukup beruntung, kebanyakan orang tidak akan seberuntung seperti dia.

Disekeliling terlihat gelap, tetapi waktu berlalu dengan cepat, ketika matahari belum terbit kita sudah menghabiskan seluruh permata dari nyawa kita.

Nyawa ini adalah sebutir gudang permata yang sangat besar, manusia tidak mempergunakannya dengan sebaik-baiknya, hanya menyia-nyiakannya.

Ketika kita sadar betapa pentingnya nyawa ini, kita telah menghabiskan seluruh waktu yang tersisa. Rahasia dari kehidupan, gembira, belas kasih, bijaksana….. seluruhnya telah terbuang habis. Kehidupan seseorang berlalu begitu saja





PUTRI JEMPOL
Di hiji dayeuh aya saurang awéwé ngaranna Maya anu kajemplingeun, manéhna sok berdoa ambéh dibikeun saurang anak. Tuluy dina hiji poé  datanglah puteri anu méréna hiji binih sarta ngajurung Maya pikeun dipelak di pot.
Maya sok ngurus sarta nyébor binih éta kalayan tabah, tuluy hiji poé binih éta tumuwuh badag sarta kembangan korét, waktu manéhna tempo kembang kasebut mucunghul saurang anak awéwé lucu ti kembang korét. Raos gumbira Maya henteu bisa di ukur kalayan naon waé, manéhna ngajadikeun awéwé lucu kasebut minangka anakna sarta manéhna ngarankeun awéwé lucu éta jeung sebutan ”Putri Jempol”.
Maya mangnyieunkeun tempat saré ti kulit kacang anu dialasi salambar lakop ros, manéhna ogé mangnyieunkeun tempat kaulinan pikeun anakna ulin. Dina peuting poéna datang sabuntut bangkong badag ti jandela. “Wah, geulis sakali awéwé ieu baris abdi jadikeun pamajikan pikeun anak abdi,” kecap si bangkong. Bangkong badag langsung némbongkeun Putri Jempol dina anakna di kira-kira walungan, nempo kajadian éta lauk-lauk di walungan ngarasa watir dina Putri Jempol anu aya di daon taraté, tuluy lauk-lauk éta mantuan Putri Jempol pikeun indit ti walungan éta kalayan dinarikna daon taraté nuju ngocor walungan anu tarik, lila-lila ngocor walungan beuki laun, tuluy Putri Jempol nempo ka luhur yén aya kumbang anu hayang metotna ka luhur. “Manéh baris abdi jadikeun pamajikan”, kecap kumbang.
Tuluy kumbang mawa Putri Jempol ka leuweung papanggih jeung babaturanana kumbang. Kecap maranéhanana “ngérakeun! Manéh hayang manéhna jadi pamajikan anjeun? Manéhna waé henteu ngabogaan jangjang”.

Réncang kumbang langsung nyeungseurikeun kumbang. Kumbang ngaraos éra tuluy manéhna langsung miceun Putri Jempol ka hiji tempat. Ayeuna Putri Jempol sorangan di tengah leuweung, manéhna teu weruh daék kamana, manéhna ogé jalan leumpang balayar mapay-mapay leuweung tuluy manéhna nempo hiji imah beurit kebon.
Putri Jempol terus ngapanuhun ka beurit kebon ambéh manéhna bisa cicing di imah éta. Sanggeus kaci cicing di dinya Putri Jempol terus diwawuhkeun ka beurit taneuh beunghar, tétéla manéhna hayang dinikahkeun jeung beurit taneuh beunghar. Putri Jempol langsung indit ka dina manéhna henteu hayang dinikahkeun, manéhna reureunceupan indit ngaliwatan gua badag sarta nempo sabuntut manuk ngagolér teu sadarkeun awak, manéhna terus mantuan manuk kasebut nepi ka manuk éta cageur.


Tuluy manuk éta ngabales budi kalayan mantuan Putri Jempol kaluar ti imah beurit kebon kasebut saterusna indit ka nagari kidul anu laér. Nepi ka ditu manéhna papanggih jeung saurang Pangéran anu kasép, tuluy Pangéran ngado Putri Jempol sapasang jangjang hérang anu éndah alatan Putri Jempol geus daék hirup sarta cicing di nagari kidul. Nempo kageulisan Putri Jempol, Pangéran langsung ngalamar Putri Jempol pikeun jadi pamajikanana. Mangka dingayakeun hiji kariaan pernikahan badag, di mana puteri-puteri masangkeun makuta di sirah Putri Jempol. Pamustunganana, Pangéran sarta Putri Jempol hirup bagja.
KESETIANKU
Mirna Setiarini. Itu namaku. Biasa dipanggil Tia. Namaku mengandung kata setia, dan hal itu terjadi pula padaku. Tak hanya sebuah nama, tetapi menjadi sifatku. Aku mempunyai sifat ini sejak aku kecil. Jika aku disuruh menunggu oleh orang yang aku cintai, seperti ibuku, aku akan menunggu di tempat itu sampai ibu kembali.
Aku selalu setia pada orang-orang yang aku cintai. Aku selalu berpendapat, mungkin memang karena aku ditadirkan meiliki nama dan sifat yang sama yaitu setia. Karena hal itu, aku selalu berusaha untuk setia. Hingga suatu saat, kesetiaan pada diriku hilang. Ini bermula dari...
“Tia!!!!! Awaaaaaasssssssssssss!!!!!!”
teriakan Sinta, temanku yang sangat akrab alias sahabatku, mengingatkanku adanya bahaya besar akan menimpaku. Kutengok sekilas ada sebuah motor melaju kencang ke arahku. Tak tau apa yang harus kulakukan, karena kejadian itu sangat cepat.
Aku hanya terkejut, dan berteriak keras karena refleksi, dan kuat-kuat di dalam hati aku memohon kepada-Nya agar menyelamatkanku. Entah apa yang telah terjadi padaku, sesaat ku linglung, melihat ke arah sekitar. Aku mendapati sosok seorang cowok tampan dan terlihat dewasa. Nampaknya, dia beberapa tahun di atasku. Dalam sekejap, aku terbius oleh pesonanya. Tak sadar dengan posisiku yang tengah berada dalam setengah pelukan cowok itu. Dan aku tersadar oleh deheman Sinta.
“Ehm, ehm.”

Dengan reflek, aku segera melepaskan diriku dari pelukan cowok itu.
“ Tia, kamu gak apa-apa?”
Tanya Sinta agak khawatir, atau pura-pura khawatir. Aku tak yakin dengan ekspresinya.
“Kamu, serius bilang itu padaku?” tanyaku menyinggung.
“Ya ampun, Tia. Masa sih, aku bilang ini semua buat cowok ini?
 Yah jelas kamulah, kamu ka yang hampir ketabrak. Atau, jangan-jangan, kamu..., gak percaya lagi sama aku? Aku serius ngawatirkanmu. Aku ini sahabatmu, ya.
”Celotehnya panjang lebar. “Ehm. Sory, kalo aku ngganggu. Ehm, kamu udah nggak pa-pa? Apa ada yang sakit?” deg. Perasaan apa ini?
Mendengar suaranya, serasa aku mau pingsan.
”Tia! Kamu gak pa-pa? Kok bengong.”
oops. Ada apa sih ma aku.
”ehm. Nggak. Nggak pa-pa kok. Ehm, makasih ya, udah nolongin aku. Aku nggak tau lagi harus gimana buat balas semua ini.”
”Buat apa balas budi segala, ya? Kan emang kewajiban dia sebgai sesama manusia. Iya kan mas?”
 tiba-tiba si Sinta nyronol gitu aja bikin malu.
”ssstt. Apaan sih. Gak sopan amat.”
”Eh, nggak. Bener kok. Kamu nggak perlu pake balas budi segala. Aku tulus kok. Oya, namaku Jerry.”
 dia menyodorkan tangannya padaku. Entah apa aku sedang mimpi.
”A..aku Tia”
baru salaman sebentar, Sinta menyerobotnya.
 ”Aku Sinta.”
Setelah itu, kami melanjutkan perkenalan di sebuah kafe terdekat dari TKP. Satu bulan kemudian, aku ditembak oleh Jerry. Aku sangat senang sekali. Selama sebulan ini, sejak pertamaku berkenalan dengannya,aku semakin dekat dengannya.
Dan akhirnya, sekarang adalah acar puncak. Aku dan Jerry, resmi jadian. Ternyata, Sinta juga senang aku dapat jodoh. Walaupun, pada saat pertama kali bertemu, tampaknya, ia tak suka dengan Jerry.
Malam ini, aku dan Jerry akan merayakan hari jadian kami. Hanya acara kecil-kecilan di sebuah kafe. Aku mengajak Sinta dan pacarnya, sehingga kami double date. Aku memang sebelumnya, belum pernah pacaran. Padahal, aku sudah 17 tahun sekarang.
Untungnya masih ada yang mau denganku.(hihihi) Aku tetap menerapkan kesetiannku pada Jerry, orang yang paling aku cintai. Dan aku sudah menjalaninya selama 1 tahun. Hingga aku lulus SMA sekarang. Aku bahagia, aku masih setia padanya, begitu pula dengannya. Aku merasa, namaku ini benar-benar membawa berkah.
Hubunganku dengan Jerry masih langgeng hingga sekarang. Dan aku akan memasuki universitas yang sama dengan Jerry. Aku berharap, aku bisa memasuki fakultas yang sama pula.
”Hi, sayang. Gimana hasil tesmu? Kamu jadi masuk UI kan, jurusan seni? Sama sepertiku.” Jerry menemuiku di teras rumah. Aku merasa sedih sekali, mau mengatakan sebenarnya. ” Hhh.. Gagal. Gagal Jerry.
Aku gagal, masuk jurusan seni UI, tapi aku keterima di jurusan ekonomi UI.
” kataku dengan sedih.
 ”Sudah, sayang. Jangan sedih. Nggak pa-pa. Mungkin ini takdir. Tapi kita masih satu universitaskan? Sudah, jangan sedih.. cup..cup..cup”
katanya menenangkanku.. kecewa sih, tapi, aku masih bisa ambil positifnya. Aku masih satau kampus dengan Jerry, pacarku tersayang. Satu semester, telah aku lewati. Aku bahagia, hubunganku dengan Jerry, kehidupan kuliahku, kehidupan di rumah. Masih langgeng aja. Tapi, ada laporan tak mengenakkan dari sahabatku yang satu ini.
”Tia, kamu harus percaya ma aku. Jerry, bukan cowok yang baik seperti dulu. Dia udah berpaling sama kamu. Dia tuh selingkuh. Aku liat sendiri dengan mata telanjangku.”
telingaku terasa semakin panas.
”Stop. Stop, sin. Itu nggak mungkin. Kamu tau kan , dia itu pasti setia sama aku. Aku setia sama dia. Jadi, nggak mungkin hal itu terjadi. Kamu pasti salah orang.
”Dibilangin nggak percaya. Kamu itu. Kamu itu, nggak lagi dibutain karena cinta, tapi, obsesimu terhadap namamu yang indah. Yang bilang membawa berkah. Selalu setia. Okey. Mungkin kamu setia. Tapi, Jerry. Jerry bukan kamu. Jadi, belum tentu dia setia.”
”Stooooooooop! Sin, jangan lagi kamu merendahkan Jerry. Dan jangan pernah kamu menyepelekan tentang namaku. Itu memang sudah terbukti.
Sudahlah. Aku mau sendiri. Jangan ganggu aku.” aku benar-benar kesal. aku meninggalkannya di kelas.
”Oke. It’s up to you.”
suaranya masih terdengar. Aku menjadi sangat kesal. Sinta adalah sahabatku. Tapi dia nggak mendukungku. Aku kesal. Kesal sekali. Entah kenapa, aku, aku buta. Buta sekali. Benar. Benar sekali yang dikatakan Sinta.
Sahabatku. Kenapa aku tak percaya dengannya. Setelah seminggu aku bertengkar dengan Sinta, diam-diaman. Aku baru dapat bukti itu dengan nyata. Kulihat, Jerry, tengah memberikan sebuah cincin pada seorang cewek dan mencium tangannya. Gimana aku nggak, arggghhhh.
Kenapa aku begitu bodoh. Secepatnya, kusamperin dia. Aku akan bikin malu dia.
” Wah,wah. Bagus ya. Ada seorang cowok yang amat ganteng, mempunyai 2 orang pacar. Dan salah satunya, nggak tahu kalo selama ini diboongin sama pacarnya sendiri, kalo ternyata dia punya selingkuhan.”
kulihat ekspresinya. Lucu banget deh. Ketakutan gitu. Seperti maling yang ketahuan, dan akan segera ditangkap, dan dibawa ke kantor polisi.
” Ah, Tia. Ka..kamu kok..”
 ” Oh, kamu panggil apa? Tia?
Nggak salah. Biasanya, pacarku selalu panggil aku sayang. Kenapa berubah jadi panggil namaku. Oh, ya. Aku tahu. Ini tandanya, kita harus putus. Dasar cowok buaya.” segera kutinggalkan tempat itu, karena aku muak melihatnya.
” Tung..tunggu Tia, sayang!!!”
aku tak peduli dengan teriakannya. Kemudian, terdengar suara-sura ricuh, sepertinya orang-orang sedang menghinanya. Hahaha. Aku senang sekali, dia bisa kupermalukan seperti itu. Tau rasa dia. Setelah kejadian itu, aku berbaikan dengan Sinta. Aku benar-benar tertipu oleh wajah manis si Jerry. Dan aku nggak mau lagi terobsesi sama namaku. Seakan, sekarang, aku lebih bebas. Tak terikat lagi dengan namaku yang setia.
 Aku bisa merasakan hal-hal yang tak pernah kurasakan.
”Tia. Kamu kelewatan. Aku memang sering, mengkritik kamu agar kamu nggak terobsesi dengan namamu itu. Tapi bukan berarti kamu hidup sebebas ini. Kamu gak perlu cobain yang namanya diskotik, kamu kan tahu, ibu kamu pasti nggak suka. Kamu juga sering bolos kuliah, kamu gak pernah datang ke acara kampus, apalagi janjian sama aku.
 Nggak pernah lagi ontime. Kamu buat aku nunggu..” celoteh panjang lebar Sinta kumat lagi deh.
” Udahlah, Sin. Kamu sendiri kan yang bilang buat aku nggak terobsesi dengan setia dari namaku itu.”
” Iya, tapi bukan berarti, kamu mengingkari semua kesetiaan yang ada padamu.”
” Udahlah. Nggak usah bikin aku bete. Udah yah. Dah. Aku mau nge-date dulu. Bye.
”kataku sambil meninggalkannnya.
Sekarang, keadaanku memang terbalik. Tak lagi aku percaya dengan kata setia. Aku malah, membencinya. Sekarang, yang aku pikirkan hanyalah bersenang-senang. Aku sering bolos.
Cuma untuk shopping, nge-date, and ke diskotik. Menyenangkan rasanya. Lagi-lagi, perasaan senangku terganggu. Aku melihat Jerry, di jalan. Saat aku sedang berjalan menuju kafe bersama pasangan baruku. Bikin bete nih.
”Tia. Aku mau ngomong sama kamu. Aku udah denger dari Sinta, sahabat kamu. Dia ceritain semuanya sama aku. Pliss. Ehm, mas, maaf, aku boleh pinjam Tia nya sebentar.”
”Oh, okey. Silahkan.”
” What? Emangnya kau barang. Say, apaan sih kamu, kok ngijinin dia bawa aku? Kalo aku diapa-apain gimana?”
aku ngeless, biar pacar baruku nggak jadi ngijinin si Jerry bawa aku. ”Tenang aja, aku gak bakalan ngapa-ngapain kamu kok” ”Iya, gak pa-pa say. Aku percaya kok. Dia keliatannya orang baik.” hah. Males banget deh, ketemu orang yang paling nggak pengen aku temui.
” Apaan?
”kataku sinis. ”Biasa aja kali. Aku Cuma mau nunjukin seseorang sama kamu.”
” Siapa? Apa hubungannya sama aku? ”tanyaku bingung.
”Ikut dulu ajah.” ada apa sih. Dasar cowok ini, misterius amat. Beberapa menit kemudian, keluar seorang cewek yang dulu pernah kupergoki dia selingkuh, dan Sinta dibelakangnya. ”Ngapain kamu bawa-bawa dia? Oh, mau pamer, kalo dia sekarang pacarmu.
Itu, Sinta, ngapain kamu disini juga?” nggak penting amat sih, nih orang. ” Biar aku jelasin. Kenalin, dia Verly.” si cewek itu pun, menyodorkan tangannya padaku. Kenapa, aku merasa dejavu. Tiba-tiba aja.
Perasaan itu, sama seperti.. yah aku tahu, sama seperti pertama bertemu Jerry.

”Hi, aku Verly.”
aku diam aja. Tak mau aku berjabat tangan dengannya.
 ” Maaf. Selama ini, aku membuatmu salah paham. Hingga, membuat hubungannmu dengan Jerry rusak, gara-gara aku. Dan, hidupmu menjadi seperti ini.”
”udahlah. Gak usah basa-basi. Kalian ini sebenarnya mau apa sih? Cuma mau minta maaf? Hh, emangnya segampang itu apa, aku memaafkan kalian. Lagian, aku nggak perlu maaf dari kalian.
”jawabku sinis. Aku tak peduli.
”Seenggaknya, dengarkan dulu apa yang mau dibicarakan oleh Verly dan Jerry.
”sambung Sinta membuatku tambah bete.
”Apaan sih, kamu. Ikut-ikutan aja.”
”Tia, kamu..” ”Sudah, sudah. Jangan bertengkar lagi. Kak, lanjutin.” Hah? Nggak salah denger. Jerry, manggil si cewek ini ”kak”? Apa karena dia lebih tua?
”Gini,ya. Aku dan Jerry, sebenarnya adalah saudara. Jerry itu, adik kandungku. Waktu itu, kamu liat, Jerry memberiku cincin dan mencium tanganku. Sebenarnya, dia hanya sedang latihan saja.


” hah? Apa maksudnya semua ini?
”latihan?”
”Iya. Latihan untuk melamar kamu. Dia mau kamu menjadi tunangannya. Dia mau melamarmu. Jerry, inginnya, latihan yang lebih nyata, jadi sekalian di kafe. Maaf ya, selama seminggu ini, kami selalu berusaha menemuimu, tapi kamu selalu tak ada. Jadi baru sekarang tersampaikan.
”Tuk. Aku tetrjatuh.
 Aku shock. Apa yang selama ini aku lakukan? Aku.. aku telah menyia-nyiakan hidupku.
Keluargaku, kampusku, sahabatku, dan cintaku. Apa yang telah aku lakukan sih? Ya Tuhan. Ampuni aku. Aku telah dibutakan oleh hawa nafsuku. Aku, tak tahu harus bagaimana. Aku telah banyak dosa. Aku banyak bersalah pada orang-orang disekitarku, yang sangat aku cintai.
”Aku... maafkan aku. Aku benar-benar salah. Aku..
”aku terisak. Aku menangis sedalam-dalamnya. Tapi aku tetap dihibur oleh orang-orang yang aku cintai, aku sayangi, walau mereka telah aku sakiti.
”Sudahlah, tak ada yang perlu dimaafkan. Sekarang, kita pulang saja yuk”
Kata Jerry menenangkanku. Iya. Sekarang, mataku jauh lebih terbuka. Aku lebih mempercayai orang-orang yang aku cintai.
Aku lebih mendengarkan apa yang mereka katakan. Kesetianku.. akan tetap ada. Tapi tidak lagi menjadi obsesi, melainkan alami. Kesetianku..  


SELESAI
Anak Punk Berhati Pink
            Suatu ketika, Jaka dan temannya mempunyai khayalan untuk membangun sebuah rumah singgah. Meskipun mereka anak2 jalanan tapi mereka berhati mulia. Keinginan itu ada sejak mereka membentuk sebuah club anak punk, dengan nama ‘pink-nya punk’.
Hmmm…..keliatannya seperti tak mungkin, tapi mereka sering bilang kalo hidup itu berawal dari mimpi. Dan hidup pasti akan berubah. Jaki , saudara kembar Jaka ingin sekali membantu teman-teman yang  sama seperti mereka.
Tiba-tiba datanglah Susi, teman Jaka dan Jaki juga.
“wooiiii…..pada ngapain nihh?? Seriuss amat…”

Tapi semuanya hanya menggeleng-geleng kepala. Kemudian Susi menawarkan nasi bungkus yang dibawanya pada anak-anak punk yang lain. “weeee,,,,makan nih..!!” kata Jaka.
Dengan lahapnya mereka makan nasi bungkus itu, meskipun hanya dengan lauk seadanya.
Tapi inilah hidup mereka, di jalanan , melawan kerasnya kehidupan. Andai mereka dapat memilih, pasti mereka lebih memilih jadi orang kaya saja, euummm….atau jadi koruptor, biar masuk lapas tapi tetap bebas. Tapi mereka tak pernah mengeluh dengan kenyataan yang ada.
Apapun yang terjadi mereka selalu hadapi bersama, mereka selalu bisa tersenyum bersama, canda tawa selalu menghiasi hari mereka. Beban pun tak terasa jika dilewati bersama. Setelah selesai makan mereka pergi ke kota untuk ngamen. Salah satu usaha agar mereka tetap bisa bertahan hidup dan bisa makan. Kebersamaan mereka yang patut kita tiru. Solidaritas yang tinggi mereka,  membuat kita sadar bahwa hidup ini membutuhkan teman. Sering kali mereka dianggap orang-orang aneh, atau orang-orang yang mengganggu ketenangan warga. Tapi mereka tak seperti itu. Tak peduli apa kata orang, asal mereka sendiri tidak membuat onar.
Dari lampu merah ke lampu merah lagi, dari satu mobil ke mobil yang lain mereka hampiri, dengan menyanyikan lagu.
“ hey kawan-kawan…kayanya hasil kita hari ini lumayan banyak nih, cukup lah buat makan siang” ujar Jaka, sebagai kepala suku dari ‘pink-nya punk’.
Semuanya serentak menjawab “ok bossss…!!”.
Tiba-tiba Jaka merasa kehilangan Susi, ternyata Susi sedang kebelet pipis. Wajarlah Jaka merasa cemas karena Jaka menaruh hati pada Susi selama ini. Seperti kisah anak SMU saja. Ditengah kebingungan Jaka, Susi pun datang dengan Dewi. “ehh maaf ya nunggu lama..kebelet pipis” ucap susi. Jaka hanya bisa tersenyum lega melihat kedatangan Susi.
“gimana sih loe?? Si Jaka kan cemas ma loe,,,” kata Jaki.
Susi hanya bisa tersipu malu mendengar ucapan Jaki. Calon adik ipar,,,,! Hee.
            Setelah itu mereka ngamen di tempat biasa yang sering mereka datangi. Disana mereka bertemu dengan Saleh, mantan anak punk yang sudah insaf jadi orang baik-baik. Bukan tidak mungkin jika seorang anak punk bisa insaf juga. Saleh terlihat lebih alim dari sebelumnya, dan dia pun sudah menikah dengan anak seorang pengusaha kaya. Nasib baik bagi Saleh. Namun, meski Saleh sudah berubah menjadi alim, dia tetap ingat saat masih bersama dengan anak-anak punk di jalanan. Dan mereka ngobrol-ngobrol untuk mengenang masa lalu, dan Saleh pun memberi semangat pada teman-teman yang lain untuk tetap berjuang menghadapi hidup yang keras ini.
Hidup ini memang ironis, apa yang menurut kita mustahil, tapi bisa saja terjadi dengan kehendak Sang Pencipta.
“eh Saleh…loe beruntung banget bisa jadi konglomerat dadakan gini,,punya mobil mewah,rumah gede, istri yang cantik pula,,,hebat loe Leh,,” ucap Toni sambil menepukan tangan ke bahu Saleh.
“ya bisa lah bang…saya juga gak mengira bisa  seperti ini.” Jawab Saleh dengan tenang. Memang benar sekali apa yang telah diucapkan Saleh, semuanya bisa saja berubah.
Jaka dan kawan-kawan nampaknya sangat merindukan Saleh, tak terasa jam makan siang sudah tiba. Karena Saleh sudah jadi konglomerat, maka kawan lamanya ditraktir makan siang oleh Saleh. “sering-sering aja Leh kaya gini…..jadi kita gak usah keluarin keringat buat cari makan” ucap Dewi pada Saleh sambil melempar senyuman manis padanya.
 “ya entu sih pengenya loe wi…gak kerja keras tapi makan enak..hukkhhh….mimpi kali neng”,kata Toni,cowoknya Dewi.
            Canda tawa mereka selalu diingat oleh Saleh, karena sebelum Saleh sukses merekalah yang selalu menemani dan menghibur Saleh.
Seketika itu ada yang menelpon Saleh, partner bisnis Saleh ingin bernegosiasi, akhirnya Saleh harus pamit pergi dengan rasa rindu yang masih tersisa dihatinya.
“duh orang sibuk nih..sukses terus bray”….do’a Jaka pada Saleh. Ternyata ada juga teman kita yang udah sukses. Ketika mereka sedang beristirahat, Jaki melihat ada ibu-ibu yang sedang dihadang penjambret, dengan sigap Jaki berlari dan memukuli sang penjambret. Cita-cita Jaki memang ingin menjadi seorang polisi. Tak heran jika Jaki sangat tanggap terhadap tindakan criminal. Sang korban sangat berterimakasih pada Jaki, sambil terucap do’a agar cita-cita Jaki bisa tercapai.
Anak-anak punk ini memang terlihat sangar dari luar, namun hati mereka baik, dan berjiwa social tinggi. Siang mulai berganti menjadi sore, matahari mulai tenggelam. Mereka mulai merasa lelah dan ingin beristirahat. Tak ada tempat yang layak seperti yang mereka impikan selama ini, mereka hanya tidur di pipir jalan dengan hanya beralaskan Koran. Sungguh tragis memang kehidupan jalanan, tidak seperti yang kita bayangkan. Toni,Jaki,dan Dewi sudah tertidur pulas. Susi masih melek karena teringat akan ibunya di kampung halaman, Jaka menghampiri susi yang sedang sendiri. Dia mencoba untuk menghibur Susi, dan mulai menunjukan tanda-tanda bahwa dia care sama Susi.
            Ternyata diam-diam Susi pun mempunyai perasaan yang sama dengan Jaka. Wah mereka saling suka. Tunggu apalagi?? Hanya saja Jaka belum berani untuk mengungkapkan perasaannya pada sang pujaan hati.
Perlahan tangan Jaka mulai menggenggam tangan Susi dan menawarkan bahunya untuk jadi sandaran Susi. Suasana malam yang dingin terasa lebih hangat dan romantis, Jaka merasa ingin selalu menemani dan menjaga Susi. Apalagi Jaka sangat senang jika melihat Susi  tersenyum manis. Perlahan mata Susi mulai terpejam, dan dia pun tertidur di bahu Jaka.

            Hari yang sangat melelahkan namun mengesankan, Karena SELALU DILEWATI BERSAMA ORANG-ORANG YANG KITA CINTAI. Kebahagiaan tak harus bergelimang harta, namun harta yang membutuhkan kebahagiaan. Malam telah berlalu, matahari telah memancarkan sinarnya. Belum ada perubahan dalam hidup mereka, masih tetap seperti hari-hari sebelumnya. Tapi mereka tak pernah menyerah untuk tetap berjuang demi kelangsungan hidup mereka.
            Seperti biasa setiap pagi mereka tak pernah mandi, saat bangun tidur yang mereka rasakan hanyalah rasa lapar. Tanpa berpikir panjang, mereka segera pergi mencari makanan. Seketika itu mereka melihat seorang Kakek tua mendorong gerobak Bubur Ayam, namun Kakek tua itu mendapat kesulitan. Roda gerobaknya bocor, Jaka dan kawan-kawan segera menghampiri si Kakek, namun pemikiran si Kakek berbeda karena Kakek mengira segerombolan anak muda itu akan membuat onar. Tapi setelah Kakek lihat mereka malah membantu si Kakek membetulkan roda gerobaknya yang bocor. Dan akhirnya selsailah pekerjaan mereka. Si Kakek pun memberikan Bubur gratis pada mereka sebagai ucapan terimakasihnya. “Ternyata berbuat baik itu menyenangkan yah,,selain perut kita kenyang kita juga bisa membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan bantuan,,” tutur Toni.
            Saat mereka hendak pergi ngamen, terlihat dari kejauhan segerombolan anak funk lain membawa senjata tajam. Sebenarnya Jaka telah mengetahui maksud dari kedatangan segerombolan anak funk tersebut yaitu untuk merebut daerah kekuasaan milik Jaka, namun Jaka belum memberitahukan hal tersebut kepada teman-teman nya. “mereka mau apa datang kemari,” Tanya Susi. “entahlah, aku juga tak tahu,” Dewi menjawab. “aku lupa belum memberitahu kepada kalian tentang masalah ini, sebenarnya kedatangan meraka kesini ingin merebut daerah kekuasaan kita, supaya daerah kekuasaan mereka semakin luas. Namun aku tak akan biarkan hal itu terjadi, biar bagaimanapun kita berhak atas daerah ini,” jawab Jaka. Mereka semua berkata,”kita harus bersatu untuk melawan mereka semua sekuat tenaga.
            Dan akhirnya terjadilah tawuran secara besar-besaran, tak ada pihak lain yang ikut campur. Tak ada yang berani keluar rumah saat tawuran itu terjadi. Meski Jaka dan teman-temannya tidak membawa senjata, mereka tetap berjuang dengan tangan kosong. terjadilah pertumpahan darah diantara kedua kelompok yang berbeda tujuan itu. Tanpa mereka sadari datanglah sebuah mobil mewah yang dikawal oleh bodyguard yang bertubuh kekar, sesaat itu pula pandangan mereka tertuju pada mobil mewah tersebut. Pria tampan keluar dari mobil mewah berwarna hitam itu, dan ternyata pria tampan itu tak lain adalah Shaleh. “ayo kalian lawan meraka,” perintah Shaleh kepada para bodyguardnya tuk melawan kelompok anak funk yang tawuran dengan temannya itu. Tanpa ada perlawanan dari para bodyguard Shaleh,mereka kabur karena ketakutan melihat tubuh yang besar  dan kekar.
            Sekali lagi kata terimakasih terucap dari bibir polos mereka, “kok kamu bisa ada disini,” Tanya Toni. “sebenarnya maksud saya datang kesini, untuk menawarkan sesuatu pada kalian,” Shaleh menjawab. Hah,, apa-apa??? Kamu mau ngajak kita makan siang lagi,” Tanya Dewi. Apaan sih kamu Dew, yang ada di pikiran kamu hanya makanan saja,, maksud aku tuh, aku mau nawarin kalian rekaman. Kebetulan aku punya teman yang punya studio rekaman, dan aku lihat kalian punya bakat jadi penyanyi,”tutur Shaleh. “Wah bener nih,, emang rezeki gak kemana yah,” Jaka melanjutkan. Mereka sangat senang mendengar berita tersebut.
            Hari demi hari telah berlalu, sekarang mereka punya kesibukan lain yaitu mempersiapkan lagu untuk rekaman. Mereka sudah tidak sabar lagi untuk segera terkenal, hayalan-hayalan sudah mamenuhi pikiran mereka. Dan hari yang ditunggu-tunggu pun telah datang, hari ini mereka akan rekaman. Mimpi-mimpi mereka selama ini akan segera terwujud. Rekaman perdana  mereka telah selesai, semua berjalan lancar mereka tinggal menunggu hasilnya saja.
            Sejak proses rekaman itu nama mereka sangat dikenal di seluruh Indonesia, jelas saja lagu mereka sangat popular. Tak jarang lagunya di putar di radio-radio.
Dari bulan ke bulan mereka kian menunjukan axistensinya di dunia hiburan, dari jerih payah mereka slama ini mendatangkan kesuksesan bagi mereka. “tak sia-sia kita banting-tulang tiap hari, ternyata Tuhan punya rencana lain. Temen-temen akhirnya kita bisa sukses,” tutur Jaka.
“terimakasih ya Allah, kau telah berikan kami kenikmatan yang tak ada duanya. Kami akan menjaga apa yang telah Engkau berikan kepada kami” Toni menambahkan.
Tersirat di benak Jaka akan impian anak-anak funk untuk membuat rumah singgah itu, Jaka pun sudah berniat akan mewujudkan impian itu jika honor dari penjualan album perdananya sudah cair. Dan dia pun ingin mempersunting Susi,Jaka ingin Susi jadi ibu dari anak-anak Jaka. Menghabiskan sisa hidupnya bersama wanita yang ia cintai.
Berbeda dengan keinginan Jaki,yang ada di otaknya adalah strategi-strategi untuk menjadi polisi yang handal menangkap penjahat. Dan ingin mengabdikan diri pada Negara sebelum mempunyai anak dan istri.
            Kehidupan mereka terlihat lebih bersinar setelah masuk dapur rekaman. Pemasukan-pemasukan mulai mengalir, jadi tidak usah berpanas-panasan di jalanan untuk mendapatkan sesuap nasi saja. Tampilan mereka pun mulai dibenahi,agar terlihat lebih menarik dan trendy, mulai dari gaya rambut hingga model pakaian mereka pun mulai dirubah. Mereka pun ingin menjadi orang yang lebih baik dan mengikuti jejak langkah Shaleh, kawan yang sangat baik bagi mereka. Beberapa minggu kemudian kehidupan mereka menjadi lebih baik dan terlihat lebih fresh. Susi mulai merasa tertarik pada Jaka. Dan dia ingin membalas cinta Jaka padanya. Suatu hari Jaka memberanikan dirinya untuk mengungkapkan semua isi hatinya pada sang pujaan hati. Jaka mengajak Susi dinner di salah satu café dekat taman kota. Susi pun menerima ajakan Jaka.
Pada saat dinner nanti Jaka akan menyatakan cintanya pada Susi.
            Tibalah saat yang ditunggu-tunggu itu, Jaka menjemput Susi. Begitu sampai di tempat Susi, Jaka terlihat gugup dan malu-malu. Namun karena cintanya yang membara dia mencoba untuk melawan semua rasa itu. Ketika pintu terbuka,,,,,Jaka terpesona dengan penampilan Susi yang sangat berbeda itu, dia tampak lebih anggun dari biasanya. Susi memakai gaun cantik dan mencoba memakai sepatu hak tinggi,meskipun belum terbiasa dan masih terlihat sangat kaku. Sesampainya ditempat tujuan, mereka mulai berbincang –bincang, saling meluapkan isi hati mereka.
“guee….pngen loe jadi ibu dari anak-anak kita Sus,,dan guee pengen loe temenin guee sampe jantung gue gak berdetak lagi,,”tutur Jaka. Susi hanya bisa tersenyum manis dan menganggukan kepala dengan perlahan sebagai tanda bahwa dia menerima lamaran Jaka. Mulai saat itu Jaka dan Susi serius menjalin hubungan. Dan berencana melanjutkan ke jenjang pernikahan. Malam hampir larut. Susi pun mengajak Jaka pulang. Sepanjang perjalanan pulang mereka sangat bahagia, dan itu adalah malam pertama mereka ngedate bareng.
            “Gue gak mimpi kan???....gue bener-bener seneng banget malem ini..cinta gue bisa loe trima  Sus..kalo ja gue tau loe bakalan nerima gue pasti dari dulu gue dah nembak loes”ucap Jaka dalam benaknya. Sampailah di depan kediaman Susi, Jaka mengucap kata perpisahan dengan lembut dan memberikan ciuman hangat di kening Susi.
Keesokan harinya anak-anak “pink-nya funk” mulai membuat single kedua mereka. Hari demi hari pasti mereka mendapat pengalaman baru, dan karir mereka semakin melejit. Tinggal selangkah lagi menuju masa depan yang cerah.
Satu jam kemudian Shaleh memberikan sejumlah uang tunai, tentunya anak-anak ini sangat kegirangan. Jaka kemudian berunding sejenak dengan teman-temannya, mereka ingin menggunakan uang tersebut dengan tepat dan digunakan untuk membantu yang lebih membutuhkan.
            Akhirnya Toni menyarankan agar sebagian dari uang itu diberikan untuk anak-anak yatim di panti, dan anak-anak “pink-nya funk” yang lain pun setuju.Mereka kemudian pergi dengan  segera menuju panti asuhan, niat mereka sungguh mulia, meskipun dari luar terlihat bringasan namun hati mereka pink ( baik hati dan tidak sombong). Sesampainya di panti, sambutan dari pemilik tempat itu sangat baik dan ramah. Jaka menuturkan niat mulianya pada Bu Endah, kepala panti Kasih Bunda. Bu Endah sangat bersyukur karena masih ada yang memperdulikan nasib anak yatim, apalagi mereka ini adalah anak-anak funk yang terkesan tukang buat onar dan meresahkan masyarakat. Tapi menilai itu tak harus dari penampilan luarnya saja, kita harus melihat isi hatinya juga.
            Seharian anak-anak funk itu menghabiskan waktu bersama anak Kasih Bunda, berbagi kisah dengan mereka, dan mereka sadar betapa pentingnya arti sebuah keluarga dalam hidup ini. Tanpa keluarga kita bukanlah apa-apa. Tak bisa hidup dengan seorang diri, karena manusia adalah makhluk social yang membutuhkan bantuan orang lain. Hmmmm…. Inilah hidup.!!
Lucunya…. Jaka dan Susi membayangkan bagaimana jika mereka mempunyai anak kelak, mereka ingin mempunyai 3 orang anak. Terlebih lagi Susi itu menyukai anak kecil. Jadi mereka tidak merasa kaku menghadapi anak kecil.
Karena hari semakin sore, anak funk itu pamit pulang, pada anak-anak panti juga pada ibu Kepala panti. Para anak yatim itu berharap mereka sering-sering datang menjenguk mereka.
Tak terasa hari semakin gelap, Jaka dan kawan-kawan ingin melepas rasa lelah, mereka semua pergi ke pantai. Dan menginap di Villa Permata milik Shaleh. Yang tak lama lagi Villa itu akan jadi milik anak “pink-nya funk” sebagai hadiah dari Shaleh, sang sahabat sejati.
Suasana pantai yang dingin, namun tetap teras hangat karena kebersamaan dengan orang-orang yang disayangi. Suara debur ombak yang melintas di telinga membuat suasana pantai semakin terasa mengesankan. Ditambah dengan iringan music gitar yang dimainkan Toni, mereka bernyanyi bersama untuk menambah kehangatan malam itu.
Hidup ini sulit ditebak, karena sudah ada yang mengaturnya dan kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi sebelum kita melewatinya. Seperti halnya kisah hidup anak-anak funk ini. Seminggu kemudian Jaka dan kawan yang lain ingin mewujudkan satu lagi impian mereka, membangun sebuah rumah singgah untuk mengenang masa-masa bahwa mereka adalah sekelompok anak funk sebelum mereka menjadi sukses seperti sekarang ini.  
Karena mereka sudah punya uang banyak maka mereka bisa membangun rumah singgah itu dalam waktu satu minggu. Tempat itu dibuat khusus untuk tempat singgah para anak-anak funk lain. Akhirnya keinginan mereka bisa tercapai, tak sekedar mimpi di siang bolong saja.
Dua hari setelah itu, Jaka melamar Susi dan mereka ingin melangsungkan pernikahan di Rumah Singgah itu. Pestanya sangat meriah, dan tamu yang datang pun sungguh unik, teman karir mereka juga sebagian dari anak-anak seperjuangan, datang hanya untuk sekedar mengucapkan selamat.
Akhirnya hidup mereka bahagia,,seiring waktu bergulir…..
           

TAMAT
Tiga Orang Pendaki Gunung

 Ada 3 orang pendaki, mereka bersama-sama pergi mendaki sebuah gunung yang sangat tinggi. Mereka bertiga mempunyai keunikan tersendiri.
Orang yang pertama,  mempunyai kebiasaan mendaki salah langkah membalikkan badannya melihat jalan yang dilalui. Dia sangat sadar akan apa yang dilakukannya.
Ia ingin mengetahui prestasi yang sudah dicapai sehingga dia selalu membalikkan badannya melihat sudah berapa tinggi dia mendaki?

Dengan demikian, ketika dia telah mendaki beberapa saat, dia merasa dia sudah mendaki sangat tinggi, didalam hatinya berpikir.
”Seharusnya sudah mendekati puncak,” katanya dalam hati.
Dia mengangkat kepalanya melihat keatas, tetapi puncak gunung sama sekali belum kelihatan. Orang ini mulai merasa bosan, dia merasa dirinya sedang melakukan hal yang sangat tidak berguna.
”Sudah setengah harian saya mendaki, masih tetap hanya berada di kaki gunung,  sebenarnya sampai kapan saya baru bisa mencapai puncak? Oleh sebab itu untuk apa sih yang bersusah payah mendaki? Lebih bagus saya cepat pulang ke rumah saja," gumamnya. Lalu dia berbalik turun kembali.
Orang yang kedua, dengan semangat berjalan cepat langsung sampai di tengah gunung. Hal ini bukan hal yang mudah, tidak hanya orang lain memuji dia, dia sendiri juga merasa bangga dapat demikian cepat berjalan tanpa berhenti sampai ke pertengahan gunung.
Oleh sebab itu dia kemudian berhenti dan beristirahat, matanya memandang sejenak kebawah gunung dan keatas gunung, didalam hatinya merasa bangga atas prestasi yang dicapai.
”Coba lihat betapa hebatnya saya ini dapat sekali jalan tanpa berhenti demikian cepat sampai di pertengahan gunung. Saya sudah mendaki demikian tinggi sudah cukup capek. Dengan prestasi yang demikian cemerlang, saya harap setengah dari perjalannya selanjutnya saya ingin kalian semua menandu saya naik keatas, saya anggap permintaan saya ini tidak keterlaluan!’ katanya.
Perkataannya ini bukan bercanda, dia benar-benar menginginkan hal ini terjadi. Oleh sebab itu dia hanya duduk disana beristirahat dan menunggu orang lain menandu naik keatas, tetapi tidak ada seorangpun yang mau menandunya, dia hanya dapat duduk menungu dan menunggu. Jika dia sendiri tidak naik atau turun gunung, mungkin sampai hari ini dia masih tetap duduk disana karena tidak ada orang yang mau menandunya.
Orang yang ketiga adalah seorang yang sangat sederhana, karena sifatnya yang yang sederhana maka dia beranggapan mendaki gunung bukanlah sebuah hal yang gampang, bukan juga hal yang terlalu sulit. Dia beranggapan jika orang lain bisa mendaki dirinya juga harus bisa, jangan memandang remeh diri sendiri tetapi jangan pula terlalu membanggakan diri sendiri.
Dengan demikian, dapat kita lihat dia melangkah selangkah demi selangkah mendaki, oleh sebab itu selangkah demi selangkah dia semakin mendekati puncak gunung, akhirnya benar saja dengan sukses dia berhasil mencapai puncak gunung.


Dahulu kala, ada seorang pemuda yang tinggal di tepi pantai. Dia sangat menyukai burung camar. Sebaliknya burung-burung camar juga sangat senang mendekati dia.

Setiap hari ketika subuh dia naik perahu pergi mencari ikan, sekelompok burung camar ini akan terbang di sekeliling perahunya.

Ada yang hinggap diatas atap perahunya, ada yang hinggap di atas kemudi perahunya, ada yang berada di atas pundak, kaki dan di dalam perahunya, dia akan bermain dengan gembira dengan burung-burung camar tersebut.


Akhirnya, setelah ayah pemuda ini mengetahui hal itu lalu berkata kepadanya.

“Saya mendengar orang lain berkata, bahwa kamu sering bermain dengan burung camar di laut, benarkah? Dapatkah engkau menangkap beberapa ekor burung camar ini dan bawa pulang ke rumah supaya saya juga bisa bermain dengan mereka?” Kata si Ayah.

Pemuda ini dengan percaya diri menjawab, ”beres, itu sih masalah gampang.”

Keesokan harinya, pemuda ini sejak subuh sudah keluar dari rumah, dia mengendarai perahunya menuju laut lepas. Dia menunggu kedatangan para burung-burung camar, tetapi, burung-burung camar yang cerdik ini dapat melihat gelagat pemuda ini tidak benar, mereka hanya terbang berkeliaran di atas perahunya, tidak ada seekor pun yang bermaksud hinggap di dalam perahunya.

Ketika pemuda ini mengulurkan tangannya ingin menangkap burung-burung camar ini, burung camar ini dengan segera terbang tinggi ke langit, melihat keadaan demikian pemuda ini hanya dapat memelototkan matanya tanpa bisa berbuat sesuatu.

Saling berhubungan jika ingin mencapai pada taraf saling bersahabat, yang pertama-tama yaitu harus timbul rasa tulus diantara kedua belah pihak. Rasa tulus dan persahabatan biasanya akan terlukis dalam wajah anda, tercermin dari pancaran mata anda.

Binatang juga bisa membaca ekpresi tersebut, manusia juga demikian. Apabila engkau menganggap diri sendiri lebih hebat dan lebih pintar, timbul niat jahat untuk melukai teman, sudah pasti teman akan menjauhi dan meninggalkan anda.




HADIAH RATU LUMBA-LUMBA
Alkisah hidup seorang nelayan bersama dua orang anaknya. Anak pertama bernama Yusa dan anak kedua bernama Yusman. Keduanya telah menikah dan mempunyai seorang anak . karna usia yang sudah terlalu tua dan sakit-sakitan, akhirnya nelayan tua itupun meninggal sebelum meninggal ia berpesan kepada kedua anaknya, agar mereka tetap tinggal serumah.
Yusa dan istrinya adalah orang-orang pemalas dan suka memerintah seenaknya kepada keluarga Yusman. Mereka tidak mau pergi untuk mencari ikan ke laut, memasak dan membersihkan rumah. Semua perkerjaan itu dibebankan kepada Yusman dan keluarganya. Tapi, lama kelamaan keluarga Yusa semkin menjadi-jadi karena merasa dirinya dalah anak tertua yang harus di hormati. Akhirnya keluarga Yusman tidak menerima atas perlakuan keluarga Yusa, yang semena-mena memerintah terhadap keluarganya. Dan merekapun bertengkar hebat. Lalu istri Yusa mengusir Yusman dan keluarganya.
Keluarga Yusmanpun pergi meninggalkan rumah dan membangun gubuk kecil di pinggiran pantai. Dia dan keluarga bekerja keras menangkap ikan di laut dan menjualnya ke pasar.
Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!