Tampilkan postingan dengan label Cerita Budi Pekerti. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Budi Pekerti. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 Desember 2009


Pada periode Warring, di negara bagian Wei, hiduplah seorang pemuda bernama Leyangtsi. Ia memiliki istri yang sangat baik dan berbudi luhur, yang sangat ia cintai.
Suatu hari, Leyang menemukan uang emas dalam perjalanan pulangnya, dan ia sangat gembira berlari pulang secepat mungkin dan memberikan uang itu kepada istrinya.
Anehnya, istrinya tidak mau menerimanya dan berkata dengan lembut, “Suamiku, seorang lelaki sejati tidak pernah minum air curian. Mengapa kamu membawa pulang emas yang bukan milik kita? Pasti sang pemilik sedang kebingungan mencari-cari barang ini di tempat yang tadi ia lewati." Leyang tersentuh akan kata-kata istrinya, dan ia mengembalikan uang emas itu ke tempat tadi ditemukan.

Setahun kemudian, Leyang menempuh studi lebih lanjut ke luar daerah, sehingga istrinya tinggal sendiri di rumahnya di desa.  Di tengah-tengah masa studinya, Leyang merasa sangat rindu ingin bertemu sang istri, dan ia pulang ke rumah. Istrinya sedang menenun kain di kamar dan merasa kaget saat mengetahui suaminya pulang, bertanya mengapa ia kembali begitu cepat. Suaminya menjelaskan alasannya. Istrinya menjadi marah dan mengambil gunting, diguntingnya putus setengah dari kain tenunannya yang sudah susah payah dibuatnya tadi, membuat  suaminya bingung. Istrinya berkata, “Bila sesuatu dihentikan di tengah jalan, bagaikan menggunting kain yang sedang ditenun.  Kain hanya dapat berguna saat ia selesai ditenun. Namun kini ia tak berharga, sama seperti sekolahmu.”

Leyang sangat tersentuh akan nasihat istrinya. Ia segera kembali melanjutkan studinya, dan tidak pulang sampai ia lulus dan mendapat pekerjaan yang baik. Kisah ini sering diceritakan di kalangan rakyat Tiongkok agar anak-cucu memiliki semangat memperjuangkan cita-cita.  (Erabaru/yqm)

Minggu, 20 Desember 2009


Tak peduli apa pun karir yang kita miliki, kita harus memandang penting moral dan dengan serius dan mengikuti standar tinggi dalam beretika, karena itu adalah nilai dasar sebagai manusia.

Dalam sebuah buku berjudul Zhuan Falun tertulis, Kebajikan adalah terakumulasi dalam kehidupan sebelumnya, menjadi raja, pejabat, kaya dan kedudukan terhormat semua dihasilkan dari kebajikan. Tanpa kebajikan, tidak ada yang dapat diperoleh, kehilangan kebajikan berarti sirna segalanya. Oleh sebab itu, orang yang mengejar kekuasaan dan mencari kekayaan harus terlebih dahulu mengumpulkan kebajikan menanggung penderitaan dan melakukan perbuatan baik dapat mengumpulkan banyak kebajikan. Untuk itu haruslah mengerti prinsip sebab akibat, dengan memahami hal ini, maka pemerintah dan rakyat dapat mengendalikan hatinya masing-masing, dunia akan makmur dan damai.



Sebagai seorang yang berkultivasi, kebajikan adalah substansi putih yang benar-benar nyata, yang membawa berkah bagi seseorang. Karma hitam diperoleh ketika seseorang 
melakukan hal-hal buruk dan ini akan membawa kemalangan. Oleh karena itu, sebagai guru harus mengikuti etika seorang guru, seorang pengusaha harus mengikuti etika berbisnis, seorang dokter harus mengikuti etika medis, seorang pejabat harus mengikuti 
kode etik yang ada, dan sebagainya. Berikut ini adalah kisah tentang bagaimana seorang dokter terkenal bernama Mr. Wan Quan pada Dinasti Ming mengikuti etika medis dan melepaskan kebencian terhadap orang lain.

Mr. Wan Quan, dikenal juga sebagai Quanren dan Mizhai, adalah seorang dokter yang dihormati pada zaman Dinasti Ming. Ia lahir di Tahun Hongzhi ke-11 (1498 A.D.) (sekarang: Lotuian County, Provinsi Hubei). Tidak hanya sangat terampil 
di bidang kedokteran, tapi juga mengikuti etika medis yang tinggi. Dia perhatian dan 
pemaaf. Ketika ada orang yang mempunyai konflik dengannya dan orang ini sedang sakit, ia tetap berusaha sekuat tenaga untuk mengobati mereka, memperlakukan mereka sama seperti pasien yang lain.

Mr. Wan Quan mempunyai sebuah konflik ketika masih muda dengan sesama penduduk kota bernama Mr. Hu Yuanxi. Mr. Hu mempunyai anak berusia empat tahun yang sedang menderita penyakit batuk darah yang sulit disembuhkan. Selama delapan bulan, Mr. Hu membawa anaknya berobat ke banyak dokter, tetapi tak satu pun dari mereka bisa menyembuhkan anaknya. Mr. Hu tidak punya pilihan selain meminta bantuan Mr. Wan Quan.

Mengikuti prinsip-prinsip menyelamatkan orang lain, melepaskan kebencian dan persoalan di masa lalu, Mr. Wan segera mulai mengobati putra Mr. Hu. Setelah diagnosa 
Mr. Wan mengatakan kepada Mr. Hu bahwa ia bisa menyembuhkan penyakit putranya, tapi membutuhkan waktu satu bulan. Setelah Mr. Wan memberikan lima dosis obat, anak Mr. Hu memperlihatkan peningkatan.

Namun, Mr. Hu Yuanxi khawatir Mr. Wan mungkin tidak mencoba sebaik-baiknya untuk mengobati anaknya disebabkan konflik mereka di masa lalu. Dia berpikir satu bulan adalah waktu yang lama dan itu menunjukkan Mr. Wan tidak benar-benar ingin membantunya, sehingga ia beralih ke dokter lain yaitu Mr. Wan Shao.

Beberapa orang berbicara dengan Mr. Wan Quan dan berkata, "Sejak Mr. Hu tidak ingin Anda mengobati putranya, sejak itu Anda seharusnya meninggalkannya sendirian dan tidak memperdulikanya. "Tapi Mr. Wan Quan menjawab, "Dia hanya memiliki satu anak. Tak seorang pun dapat menyembuhkan anaknya tetapi saya mampu menyembuhkanya. Jika saya pergi, Mr. Hu tidak akan datang untuk meminta bantuan lagi. Kemudian 
anaknya akan berada dalam bahaya. Jika anaknya meninggal, meskipun saya tidak membunuhnya, tapi Saya tetap bertanggung jawab. "Jadi, ia berkata," Saya harus tinggal di sini melihat apa yang dokter lain lakukan. Jika apa yang mereka lakukan benar, saya akan pergi. Tetapi jika mereka melakukan sesuatu yang salah, saya akan berusaha sekuat tenaga untuk menghentikan mereka. Jika saya tidak bisa menghentikan mereka, maka saya akan pergi. "

Ketika Mr. Wan Quan melihat resep yang diberikan Mr. Wan Shao, ia tahu itu bukan resep yang sesuai untuk anak itu, ini bisa berbahaya jika anak itu mengambilnya, maka ia mengarahkan untuk tidak memakai resep itu. Namun, Wan Shao menolak untuk mendengarkan dan bersikeras bahwa resepnya benar. Mr. Wan Quan dengan serius mengatakan kepada Shao, "Saya tidak ada masalah dengan Anda. Saya hanya prihatin pada anak itu. "

Melihat tak seorang pun akan menerima saran yang dia berikan, Mr. Wan Quan memutuskan untuk pergi. Tetapi dia masih sangat khawatir dengan anak itu. Sebelum pergi, ia menyentuh kepala anak itu dengan lembut dan berkata kepada ayahnya, "Untuk permulaan biarkan dia mengambil dosis kecil dari obat baru dan Apa yang akan ia lakukan jika penyakitnya datang kembali? "

Setelah diberikan secangkir kecil obat, gejala anak itu kembali bahkan 
lebih buruk daripada sebelumnya, persis seperti prediksi Mr. Wan Quan. Anak itu menangis, dan berkata " Obat Mr. Wan Quan lebih baik. Dokter baru mencoba meracuni saya."

Mr. Hu Yuanxi sangat menyesal dan pergi untuk meminta bantuan Mr. Wan Quan 
lagi. Mr. Wan Quan tidak membiarkan pengobatan dan sikap Mr. Hu sebelumnya 
mengganggu dirinya. Dia berkata kepada Mr. Hu, "Jika Anda mendengarkan saya sebelumnya, ini tidak akan terjadi. Sekarang jika Anda benar-benar ingin Saya mengobati anak Anda, Anda harus percaya pada Saya sepenuhnya. Tolong beri saya sebulan dan Saya akan merawatnya. "

Mr. Hu Yuanxi memberikan anaknya untuk dirawat oleh Mr. Wan Quan. hanya butuh waktu 17 hari untuk anak itu pulih sepenuhnya. Keluarga Mr. Hu sangat berterima kasih kepada Mr. Wan Quan.
 (Erabaru)

Sabtu, 19 Desember 2009


Ada sebuah kisah rakyat Mongolia yang menarik untuk kita simak...

Pada jaman dahulu, di dataran padang rumput Mongolia, hiduplah seorang pemburu yang baik hati yang bernama Hailibu. Tiap selesai berburu, dia akan selalu membagikan daging-daging tersebut untuk penduduk desa yang lain dan dia hanya menyisakan sedikit bagian untuk dirinya sendiri. Perhatiannya un-tuk orang lain membuat dia begitu dihargai di desa itu.


Suatu hari, saat sedang berburu di dalam hutan, Hailibu mendengar suara tangisan dari langit. Sambil menatap ke atas, dia melihat seekor makhluk kecil yang ditangkap oleh seekor burung Hering yang amat besar. Dengan cepat, dia mengarahkan busur panahnya ke arah predator tersebut. Karena terkena bidikan panah tersebut, si burung raksasa melepaskan mangsanya.

Hailibu menatap ke arah makhluk aneh tersebut yang memiliki tubuh menyerupai seekor ular. Dan berkata,"Makhluk yang menyedihkan (kasihan), cepat pulanglah." Makhluk itu menjawab, "Wahai pemburu yang baik, saya sangat berterima kasih karena anda telah menyelamatkan nyawaku. Sebenarnya, saya adalah putri raja Naga, dan saya yakin ayahku akan memberikan anda hadiah sebagai ucapan terima kasih. Beliau mempunyai banyak harta benda yang dapat anda miliki. Tetapi jika tiada satu pun harta benda yang berkenan bagimu, anda dapat meminta batu ajaib yang beliau simpan di dalam mulutnya. Siapapun yang memiliki batu ajaib itu, dia akan memahami semua bahasa hewan."

Hailibu si pemburu tidak tertarik dengan segala harta benda, tetapi kemampuan untuk dapat memahami berbagai macam bahasa hewan membuatnya sangat tertarik. Kemudian, dia bertanya kepada si Putri Naga, "Apakah itu benar-benar batu ajaib?" Si putri menjawab, "Benar. Tetapi apapun yang anda dengar dari hewan-hewan tersebut, anda harus menyimpannya untuk diri anda sendiri. Jika anda memberitahukan kepada orang lain, maka anda akan berubah menjadi batu."

Lalu, si Putri Naga itu membawa Hailibu ke pinggir laut. Saat mereka mendekati laut, tiba-tiba air terbelah dengan cepat, sehingga Hailibu dapat berjalan seperti saat berada di jalan yang amat lebar. Tak lama kemudian, tampaklah sebuah istana yang berkilau, di mana tempat tinggal si raja Naga.
Raja Naga amat bahagia saat mendengar Hailibu telah menyelamatkan putrinya, dan dia kemudian menawarkan segala harta benda yang Hailibu inginkan dari istananya. Setelah terdiam beberapa saat, Hailibu menjawab, "Jika Baginda ingin memberi saya sesuatu sebagai hadiah, bolehkah saya meminta batu ajaib yang ada di mulut Baginda raja?"

Raja Naga menurunkan kepalanya, berpikir sejenak. Kemudian, dia mengeluarkan batu tersebut dari mulutnya dan memberikannya kepada Hailibu.

Saat akan berpisah, si Putri Naga mengulangi kembali pesannya untuk Hailibu, "Pemburu yang baik, hendaklah anda ingat untuk tidak memberitahukan kepada siapapun tentang apapun yang dikatakan oleh para hewan, jika tidak, anda akan langsung berubah menjadi batu."

Setelah memiliki batu ajaib di mulutnya, Hailibu semakin menikmati perburuannya di hutan. Dia mengerti semua bahasa hewan, dan dia juga dapat mengetahui hewan apa saja yang dapat ia buru, beserta lokasi di mana hewan tersebut berada. Dengan kemampuan ini, dia menghasilkan lebih banyak lagi daging hewan buruannya dan ia dapat membagikannya kepada para penduduk desa.

Beberapa tahun kemudian....

Pada suatu hari, saat sedang berada di gunung, Hailibu mendengar sekumpulan burung sedang bercakap-cakap tentang sesuatu hal yang amat penting. Dia mencoba untuk mendengarkannya dengan seksama. Sang pemimpin berkata, "Kita harus cepat-cepat pindah ke daerah lain. Malam ini, gunung akan meletus dan banjir akan menggenangi seluruh daerah ini. Banyak manusia yang akan mati"

Hailibu amat kaget mendengar hal ini. Dengan tergesesa-gesa, dia lari pulang ke rumahnya, dan menyebarkan berita ini kepada penduduk desa. "Kita harus pergi dari daerah ini secepatnya, Kita tidak dapat tetap tinggal di sini lagi.!" Tentunya, penduduk desa bingung dan kaget,"Tidak ada yang salah selama kita tinggal di sini,lalu kenapa kita harus pindah?". Hailibu tetap berkeras untuk menyampaikan berita ini, tapi tidak ada seorangpun yang percaya. Dengan menangis, Hailibu menjelaskan, "Tolong dengarkan saya, saya dapat bersumpah bahwa apa yang saya katakan itu benar. Percayalah saya, kita harus pergi sekarang sebelum semuanya terlambat"

Seorang tetua mencoba untuk menenangkan Hailibu, "Engkau adalah pemuda yang baik dan selama ini engkau tidak pernah berdusta. Kami sudah menetap di sini dalam kurun waktu yang lama, tapi sekarang engkau meminta kami untuk pindah. Untuk pindah dari tempat ini bukanlah perkara mudah, karena itu engkau harus memberitahukan kepada kami apa alasanmu,anak muda?"

Hailibu merasa putus asa dan tidak menemukan cara lain untuk menyelamatkan penduduk desa. Lalu, dia mencoba menenangkan diri sejenak. Dengan kesungguhan hati, dia berkata kepada penduduk desa. "Malam ini, gunung akan meletus dan sebuah banjir besar akan melanda tempat ini. Kalian dapat lihat sendiri, burungburung telah terbang meninggalkan daerah ini." Kemudian Hailibu menjelaskan perihal bagaimana dia mendapatkan batu ajaib, yang membuatnya mengerti semua bahasa hewan, tapi seharusnya dia harus menyimpannya itu sebagai rahasia, jika tidak, dia akan berubah menjadi batu.

Saat Hailibu bercerita, bagian bawah tubuhnya, mulai dari telapak kaki perlahan-lahan berubah menjadi batu. Setelah dia menyelesaikan seluruh cerita, dia berubah menjadi batu seutuhnya.

Para penduduk desa amat kaget dan merasa amat kehilangan. Mereka menangis, mencurahkan kesedihan mereka yang sedalam-dalamnya, mereka menyesal mengapa tidak mempercayai Hailibu dari awal. Akhir-nya, dengan membawa barang-barang penting mereka dan persediaan makanan, semua penduduk desa (termasuk para tetua dan anak-anak), mereka berjalan dan meninggalkan daerah itu. Mereka terus berjalan hingga malam hari, tiba-tiba awan tebal menyelimuti langit dan angin telah bersiap untuk menderu. Tak lama, turunlah hujan yang amat sangat deras. Dari arah desa, mereka mendengar suara gemuruh dari letusan gunung......
Sudah beberapa generasi telah berlalu, namun para nenek moyang dari desa tersebut tetap dapat mengingat Hailibu, si pemburu yang baik hati. Mereka juga tetap berusaha untuk mencari batu Hailibu.
(The Epoch Times/YY)

Ketika seseorang menilai terlalu tinggi dirinya, ia sering diingatkan: “Jangan seperti Belalang yang berusaha untuk menghentikan kereta.” Pepatah ini berasal dari sebuah kejadian yang terjadi di periode musim semi dan gugur di Tiongkok kuno.



Suatu hari, Raja Qi pergi berburu dengan para pengawalnya dengan disertai iring-iringan kereta, ketika tiba-tiba seekor belalang besar berdiri ditengah jalan dengan kaki depan seperti sebuah sabit yang terhunus, mencoba menghentikan kereta tersebut. Raja Qi yang terkejut melihat aksi belalang itu. Raja kagum atas keberaniannya, termenung sebentar dan berkata, “Sayang dia hanya seekor serangga, bila dia manusia, dia pastilah prajurit paling berani sedunia!” Lalu Raja memerintahkan agar kereta-kereta itu berbalik meninggalkan belalang yang berdiri dengan gagah berani itu.

Ketika orang-orang disekitar Raja mendengar itu, mereka sungguh merasa tersentuh dan bertekad untuk mempersembahkan jiwa mereka kepada negeri.

Lalu seiring dengan berlalunya waktu, arti dari ungkapan yang berubah terbalik. Sekarang pepatah ini berarti bahwa seseorang menilai terlalu tinggi dirinya dan mencoba untuk mempertahankan kekuasaan superior
. (source: Erabaru.net)
Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!